SEJARAH

A. Awal Mula

Dimulai pada bulan Juni 1922 diselenggarakan Misa Kudus setiap dua minggu sekali di Gedung Societet Medari, yang lebih dikenal sebagai “Kamar Bola(h)”.Pada mulanya umat masih sedikit (sekitar 20 orang) yang sebagian besar adalah orang yang bekerja di Pabrik Gula Medari, hanya sebagian kecil dari pribumi. Yang sejak awal melayani, menangani, dan mengawasi Gereja Medari adalah Romo Van Driessche, SJ. (1917 – 1925) dari Kotabaru, Yogyakarta.

Pada tahun 1925 jumlah umat berkembang (lebih dari 250 orang) dan tidak hanya berasal Medari dan sekitarnya, tetapi juga ada yang berasal dari tempat yang jauh. Mereka berbondong-bondong hanya dengan berjalan kaki untuk mengikuti Misa Kudus di Medari. Karena dirasakan Kamar Bola tersebut tidak mencukupi lagi untuk menampung umat, maka dibangunlah gedung gereja di Dusun Murangan yang dimulai pada tahun 1925 dan selesai dibangun serta diresmikan dan diberkati pada tanggal 23 Oktober 1927 oleh Romo Van Velsen, SJ., Vikaris Apostolik Batavia. Umat yang datang untuk Misa, kalau ditanyai orang mau ke mana, selalu menjawab: “Badhe kempalan dhateng Medari”, walaupun gereja sudah berada di Dusun Murangan. Karena sudah terbiasa menjawab demikian maka untuk seterusnya gereja tersebut lebih dikenal sebagai Gereja Medari, dengan Santo Pelindung yang dipilih oleh Romo Fransiskus Strater, SJ. adalah Santo Yoseph.

Bersamaan dengan masa-masa itu juga didirikan Sekolah Katolik yang juga menempati Kamar Bola tersebut. Pada mulanya guru-guru masih didatangkan dari Muntilan. Pengelola sekolah tersebut adalah Yayasan Kanisius. Karena diperlukan ruangan khusus untuk sekolah yang disesuaikan dengan ruang kelas dan bertambahnya jumlah murid maka dibangunlah gedung sekolah di Dusun Murangan, yang diresmikan pada tahun 1925. Sekolah ini berkembang dengan sangat baik sampai dengan tahun 1937.

Pada tahun 1937 di Medari dibentuklah sebuah badan kepengurusan gereja yaitu Panitia Gereja Katolik (PGK) yang melibatkan beberapa tokoh umat yang bertugas mengurusi umat, mengembangkan ibadat, dan mengelola bangunan gereja. Untuk memperlancar tugas kepengurusan, menertibkan administrasi, dan membentuk kepengurusan gereja dibuatlah cap (stempel) dengan tulisan Dewan Paroki Medari. Sebutan ‘Dewan Paroki inilah yang menjadi asal mula disebutnya dewan-dewan paroki di Keuskupan Agung Semarang dan di seluruh Indonesia.

B. Pertumbuhan

Pengelolaan Gereja  Medari tersebut pada awalnya masih di bawah administrasi / pelayanan Paroki Kotabaru, Yogyakarta. Baru pada tanggal 29 Februari 1960 barulah didirikan Paroki St. Yoseph Medari, sesuai dengan akte PGPM Paroki St. Yoseph Medari, dengan Pastor Paroki yang pertama adalah Romo Arnoldus Ingen Housz, SJ.

Gereja Medari mengalami ‘masa – masa panen’ sewaktu dipimpin oleh Romo Fransiskus Strater, SJ yaitu pada tahun 1925 – 1942, sebab umat yang dibaptis seluruhnya mencapai lebih dari 2000 orang. Semenjak tentara Jepang memasuki Yogyakarta Gereja Medari mengalami masa-masa suram dan kelabu, karena rasa takut kepada pihak pribumi yang menganggap orang Katolik lebih berpihak kepada Belanda, maka para misionaris ditangkap termasuk Romo Fransiskus Strater, SJ. Beliau dijebloskan ke dalam tahanan di Markas Polisi Reksobayan (sekarang Polsek Ngupasan) pada tanggal 14 Agustus 1942. Gereja Medari sempat ditutup oleh pihak Jepang dan dipakai untuk gudang perbekalan tentara Jepang.

Sepeninggal Romo Arnoldus Ingen Housz, SJ. tidak terjadi peristiwa istimewa, dimana “keguyuban Gereja Medari” kurang hidup, sampai pada peristiwa G30S-PKI yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Gereja secara nasional. Pada bulan Oktober 1965 sampai  Desember 1971 Romo Blasius Pujaraharja, Pr. berkarya di Paroki St. Yoseph Medari dan umat mulai bangkit dan berbenah diri menuju Gereja yang sungguh mandiri dan mengumat. Jika sebelumnya Paroki St. Yoseph Medari dikenal sebagai “Paroki Yang Tidak Mudah”: ajakan pastor tak mendapat tanggapan, yang hadir dalam rapat Dewan Paroki kurang dari 10 orang, dalam pembicaraan seperti “oposan”, dan pastornya dibiarkan pontang-panting sendiri, maka sedikit demi sedikit mulai berubah.

Romo Blasius Pujoraharjo, Pr. (1965-1971) mulai membuat gebrakan yang belum pernah dilakukan pastor-pastor sebelumnya. Pembaharuan gereja antara lain :

– Mengubah bentuk perayaan misa atau liturgi dengan ibadat yang mengumat, di mana umat dilibatkan dalam seluruh kegiatan termasuk doa bersama dalam bahasa Jawa pada perayaan Natal, 25 Desember 1965. (partisipasi umat dilibatkan).

– Merubah bentuk altar yang masih menghadap ke tembok (membelakangi umat) ke bentuk yang baru yaitu menghadap umat sesuai anjuran dari Konsili Vatikan II.

Tahun 1967 Pastor Bl. Pujoraharjo, Pr., mengusahakan gilingan beras untuk mencari dana penghidupan gereja, karena dananya (kolekte) yang masuk minim sekali. Caranya dengan menanamkan saham untuk beli gilingan, setelah saham kembali lalu menjadi milik gereja.

Tahun 1968 Pastor Bl. Pujoraharjo, Pr., mengangkat prodiakon awam untuk membantu tugas pastor, angkatan pertama hanya tiga orang yaitu : Bapak Al. Suyanto (Sleman), Bapak AD. Prawirosumarto (Mlesen) dan Bapak Suwardjo(Gadung) dengan masa kerja 1 tahun.

Tahun 1970 membuat sebuah gedung pertemuan yang sekarang kita kenal dengan nama “Panti Paroki“.

Pada tahun 1975 Romo Evaristus Rusgiharto, Pr(1975-1977menggantikan tugas Pastor Th.Pusposugondo, Pr. Kalau sebelum waktu itu itu segala kebijaksanaan pastoral masih tergantung dari Romo Paroki sejak periode kepemimpinan Pastor E. Rusgiharto,Pr., lingkungan-lingkungan mulai dihidupkan sebagai Gereja Basis. Gereja Basis inilah yang diharapkan bisa menjadi ujung tombak peranan gereja di tengah masyarakat.

Tugas Pastor E. Rusgiharto, Pr., dilanjutkan oleh Pastor YM. Harjoyo, Pr, (1977 – 1980) dengan dibantu oleh Pastor Joachim Suyadi, Pr. Banyak hal yang dilakukan oleh Pastor Y. Harjoyo, Pr., bersama Pastor Yadi (panggilan akrab). Perhatian Pastor Y. Harjoyo, Pr., ketika tugas di Medari lebih pada pembangunan gedung gereja. Pada waktu itu Pastor Y. Harjoyo, Pr., juga mengusahakan tanah-tanah untuk gereja di Stasi Seyegan Seluas 3.000 m2 (sekarang gereja St. Thomas).

Sedangkan perhatian Pastor J. Suyadi, Pr., lebih pada pendampingan kawula muda baik di Paroki Medari maupun Stasi Seyegan. Dalam waktu 4 tahun (1977-1981) Pastor Suyadi, Pr., lebih banyak memperhatikan mudika, karena banyak generasi yang kurang aktif. Program yang dibuat Pastor J. Suyadi, Pr., antara lain: Porseniantar lingkungan yang disentralkan di paroki, anjangsana mudika paroki yang melibatkan seluruh mudika lingkungan dengan sasaran kunjungan mudika Stasi Seyegan. Tujuannya adalah supaya mudika dapat lebih akrab dan membaur. Selain itu Pastor J. Suyadi, Pr., juga menawarkan kemping rohani.

Tidak banyak catatan penting mengenai pastor-pastor setelah Rm. Y. Harjoyo, Pr sampai dengan kehadiran Rm. Joseph Suyatno Hadiatmaja, Pr (2001). Pada waktu Rm. Joseph Suyatno Hadiatmaja, Pr (2001 – 2004) menjadi pastor paroki bersama dengan Rm. Antonius Dodit Haryono, Pr (2001 – 2004) Paroki Administratif St. Yohanes Rasul Somohitan yang semula berada dalam reksa pastoral Paroki Medari mulai dikembangkan menjadi Paroki Mandiri dengan Pastor Paroki yang pertama adalah Rm. J. Suyatno Hadiatmaja, Pr. Sedangkan Rm. Ant. Dodit Haryono, Pr. menjadi Pastor Paroki di Paroki St. Yoseph Medari.

Rm. Antonius Dodit Haryono, Pr (2001 – 2004) dengan beberapa pertimbangan dan usulan umat serta atas nasihat Keuskupan Agung Semarang mengubah tanggal Hari Ulang Tahun Paroki yang semula selalu diadakan pada tanggal 1 Januari, sesuai dengan waktu Pastor pertama menempati Gereja Medari (1 Januari 1930), menjadi tanggal 23 Oktober sesuai dengan tanggal peresmian gedung Gereja Medari. Meskipun demikian masih memakai tahun 1930 sebagai acuan tahun berdirinya Gereja Katolik di Medari. Jadi Hari Ulang Tahun Paroki St. Yoseph Medari merupakan gabungan dari tanggal peresmian gereja dan tahun dipilih pada saat ada Romo yang bertempat tinggal (walau sementara) di Pastoran Gereja St. Yoseph Medari.

Rm. Johanes Berchmans Suwarno Sunu Siswoyo, Pr (2004 – 2009) membenahi tata hubungan dan administrasi Dewan Paroki dan unit-unit terkait agar sesuai dengan standar-standar yang diterapkan di Keuskupan Agung Semarang. Tata hubungan Pastor Paroki, Dewan Paroki, Wilayah, Lingkungan dibenahi terutama agar selaras dengan Pedoman Dasar Dewan Paroki 2004 KAS (PDDP). Kewilayahan mulai diperkenalkan pada tahun 2007 dan mulai diterapkan secara penuh pada saat Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki St. Yoseph Medari 2008 (PPDP) diberlakukan pada 1 Januari 2009. Paroki Medari dibagi menjadi 6 (enam) Wilayah, yaitu: Wilayah I, II, III, IV, Thomas I, dan Thomas II.

Rm. Norbertus Sukarno Siwi, Pr (2009) setelah mencermati Perayaan Ekaristi Mingguan yang diadakan pada Sabtu Sore pukul 16.00 WIB dirasakan kehadiran dan keterlibatan umat sangat kurang maka waktunya diubah menjadi pukul 17.00 WIB. Jika semula yang hadir adalah umat yang sudah usia lanjut dan jarang terdapat umat pada usia produktif maka dengan perubahan waktu Perayaan Ekaristi tersebut lebih banyak umat yang terlibat dan banyak umat yang berasal dari kaum muda, keluarga muda, dan anak-anak. Hal ini disebabkan jam 16.00 WIB kebanyakan umat masih bekerja atau belum bebas tugas, sedangkan yang usia lanjut berkurang kehadirannya sebab waktu pulang Perayaan Ekaristi sudah gelap (sekitar jam 18.30).

C. Pemekaran

Pada waktu masih berbentuk Stasi St. Yoseph Medari terjadi beberapa pemekaran; yaitu Stasi St. Aloysius Gonzaga Mlati di bawah administrasi Yogyakarta pada tahun 1936, Paroki Administratif St. Yohanes Rasul Somohitan yang semula di bawah administrasi Paroki St. Yoseph Medari, pada tahun 2004 akhirnya meningkat menjadi Paroki Mandiri St. Yohanes Rasul Somohitan.

Karena beberapa pertimbangan, Stasi St. Thomas Seyegan bergabung di bawah pelayanan Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati pada tahun 1955 – 1972.  Selanjutnya karena kedekatan geografis maka Stasi St. Thomas Seyegan kembali lagi di dalam pelayanan Paroki St. Yoseph Medari (1972 – sekarang).

 D. Masa Kini

Paroki St. Yoseph Medari meliputi beberapa kecamatan: Tempel, sebagian Sleman, Seyegan, sebagian Minggir, dan sebagian Turi yang kesemuanya termasuk Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2013 Paroki St. Yoseph Medari meliputi 6 Wilayah (terdiri dari 27 Lingkungan); di Paroki Pusat ada 4 Wilayah yang terdiri dari 19 Lingkungan dan di Stasi St. Thomas Seyegan ada 2 Wilayah yang terdiri dari 8 Lingkungan.